MY SADNESS
Aneh rasanya, aku merasakan sesuatu yang menurutku aneh dan sangat aneh, aku tak senang jika ia dekat kembali dengannya aku merasa tersaingi dengannya yang dulunya jauh dan tidak bersahabat sama sekali. ketika itu aku mencoba untuk menjadi yang terbaik baginya, aku selalu berusaha untuk menjadi seorang sahabat yang selalu ada ketika temannya sedang dalam kesusahan, tetapi lama kelamaan sepertinya tidak baginya, mungkin ia hanya menggapku hanya SEKEDAR teman berbagi susah saja, seringkali aku membuatnya kesal dan jengkel, sering kali aku membuatnya marah karena kelakuanku yang tidak berkenan baginya. mungkin aku terlalu egois, hanya memikirkan diriku sendiri tak perduli dengan sekelilingku. sosok yang kudambakan sebagai seorang sahabat ada padanya, namun bagaimana jika hanya aku yang menganggapnya sahabat? hanya aku yang selalu ingin menjadi sahabatnya? tidak dengannya. peristiwa sepele yang menyebabkan kita bertengkar selama beberapa minggu membuatku stress seperti tak ada lagi semangat dalam hidup. memang benar aku juga mempunyaik sahabat yang dengan setia sejak SMA menemaniku mendengar segala keluh kesahku, tapi entah mengapa aku tidak bisa menjadi diriku sendiri ketika bersamanya. apakah ada yang salah denganku?ada yang tidak beres dengankukah?apa yang harus aku lakukan?.
Adakalanya dia menyemangitiku, adakalanya ia menegurku karena satu hal yang menurutnya harus diubah dalam diriku, adakalanya ia menghiburku, adakalanya ia juga memarahiku, ia adalah seorang teman yang sangat membangun untukku. Namun didasar hatiku, entah mengapa aku begitu yakin bahwa aku dan dia takkan bisa akrab lagi dan saling berbagi suka dan duka. rasannya ia semakin lama semakin menjauh dan menjauh.Aku hanya bisa menatapnya dan hanya bisa terdiam saja. sejujurnya aku sangat sedih rasanya ingin berteriak sekeras mungkin dan berkata "bisakah kita menjadi seorang sahabat?". Aku hanya bisa merasakan ini sendiri hanya aku dan Tuhan yang benar-benar memahami bagaimana keadaan hatiku saja. Mungkin semester lalu adalah moment terakhir yang kulalui dengannya, mungkin aku terlalu melankolis dan berlebihan tapi lebih baik aku jujur akan apa yang kurasakan saat ini daripada aku hanya berdiam dan meratapi keadaanku. kutuliskan ungkapan hatiku ini hanya untuk melepaskan penat dihatiku. serasa tak lagi bersemangat serasa tak ada lagi yang bisa dijadikan teladan bagiku, semuanya menghilang begitu saja, pergi dengan sangat cepat. Aku tahu setiap ada pertemuan akan selalu ada perpisahan namun bagaimana aku bisa lapang dada melawan rasa egoisku untuk melepasnya pergi mungkin ia akan lebih bebas berekspresi tanpa ada bayang-bayangku yang mungkin selalu menyusahkannya. Aku selalu berusaha untuk tetap berdiri meski sulit untuk kulakukan.
semua yang terjadi kemarin akan membuatku begitu sedih dan aku tak mau tenggelam dalam kesedihanku sendiri. aku harus menjadi seorang yang kuat, itu sulit bagiku entah apa yang harus kulakukan saat ini. Mungkinkah aku seorang yang kurang bersyukur pada Tuhannya atas apa yang selama ini dititipkan padaku? jika ia, betapa jahatnya diriku. Seringkali aku berbohong padanya tentang keadaan hatiku yang sebenarnya, mungkin aku bodoh tak bisa jujur dengan keadaanku, bodoh....bodoh....aku merasa belum saatnya ia tahu, karena aku yakin ada saatnya ia tahu dan itulah saat yang tepat, mungkin ketika aku sudah tak lagi ada didekatnya dan akrab bersamanya sebagai seorang teman dekat sekalipun, mungkin aku sudah berada jauh disana dan sudah melupakan apa saja yang sudah kulalui. untuk menghilangkan kesedihan yang kualami, aku selalu mendengarkan musik dan bernyanyi, tapi apakah aku benar-benar bisa melupakan kesedihanku?atau apakah aku hanya menjadi seorang pengecut yang hanaya bisa lari dari masalah dan kenyataan dihadapanku?. yah itu cerita kesedihanku yang saat ini belum terselesaikan. aku berharap semua akan indah pada saat yang tepat entah itu kapan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar