Gadis
Metropolitan
Alkisah hiduplah seorang gadis disebuah kota metropolitan yang pebuh
dengan beragam kehidupan didalamnya, beragam jenis watak dan karakter manusia
didalamnya. Sang gadis yang baru berusia 19 tahun ini memiliki 3 orang adik dan
sepasang orang tua yang hidup sederhana dan bias dibilang cukup harmonis.
Gadis
ini masih mengenyam bangku kuliah usianya yang masih muda menandakan ia masih
merintis jalan menuju masa depan, dikota
metropolitan ini sang gadis harus berjuang dan berdiri tegar dari ganas
dan panasnya cobaan tantangan yang ia hadapi. Mulai dari masalah keluarga,
masalah pembayaran kampusnya, masalah ia dengan salah satu teman dekatnya
dikampus hingga masalah asmaranya, jika dilihat sangatlah kompleks masalahnya… dikeluarganya
gadis ini dianggap kurang bertanggung
jawab sebagai kakak bagi ketiga adiknya dan kurang memenuhi kewajibannya
sebagai anak bagi kedua orang tuanya, dikampus gadis ini terancam di DO karena
menunggak biaya kuliah sebesar enam belas juta rupiah entah harus ia bayar dengan apa
hutang sebegitu besar, adapula teman dekatnya yang karena ia sang gadis masih
semangat menjalani kuliah, dan masalah asmaranbya yang hingga saat ini tak
jelas arahnya. Sang gadis menghadapi semua hal itu dengan mencoba tetap
tersenyum serta berdoa pada Tuhannya, terkadang gadis ini ingin mengakhiri
hidupnya tapi dia sadar akan tanggung jawabnya terhadap ketiga adiknyadan dia
juga sadar cara itu tidaklah dibenarkan menurut agamanya. Keinginannya untuk
bekerja belumlah terwujud karena bentrok dengan jadwal kuliahnya yang dimulai
pukul dua siang hingga delapan malam.
Hal
yang dialami oleh sang gadis tidaklah ia alami sendiri ada juga orang lain yang
m,engalami hal serupa dengannya tau bahkan lebih buruk dari pada dirinya. Untuk
itu sang gadis masih bersikap tenang dan tidak memikirkan begitu banyak
masalahnya, hingga suatu hari ketika ia membuat marah teman dekatnya ia tak bias
membendung lagi air matanya, didepan beberapa teman kampusnya ia menangis dan
menumpahkan air mata yang ternyata masih ada padahal ia piker air matanya
trelah habis ia buang percuma.
Seringkali sang gadis menyalahkan dirinya sendiri
karena ia merasa begitu bodoh membuat segala sesuatunya menjadi rumit dan tak
terselesaikan, karena ia hanya bias menangis dan mengadu pada Tuhannya betapa sulitnya ia
saat ini.
Untung
saja ada sahabatnya yang lain yang masih membantu ia tuk tetap tegar meski
sulit. Terlihat sekali bahwa gadis ini masih belia dan belum dewasa, ia butuh
seseorang yang mampu mengayomi dan membimbingnya untuk menjadi dewasa. Sesorang
yang bias setiap saat ada untuknya. Wow ternyata sang gadis sedang mencari
kekasih hati atau yang biasa disebut sebagai pacar. Sang gadis masih bingung
bagaimanakah caranya ia mendapat seorang kekasih hati?masih belum diketahui
yang pasti sang gadis memikirkannya. Satu hal yang harus dilakukan sang gadis
sebelum ia melangkah lebih jauh lagi”tetaplah jadi diri sendiri” sebenarnya
sang gadis adalahg seorang yang cerdik dan rajin hanya saja lingkungan yang ada
disekitarnya tidak mendukungnya. Ditambah lagi sang gadis terlalu merendahkan
dirinya sendiri alhasil sang gadis tidaklah mengaktualisasikan dirinya dengan
baik dan benar, banyak ketakutan yang ada dipikirannya sikapnya yang terlalu
melebih-lebihkan masalah dan keraguannya yang senantiasa hinggap dipikirannya
yang membuatnya tidak berani mengambil langkah untuk maju dan berkembang sang
gadis sempat merasa bahwa dirinya bermasalah memiliki kelainan namun,
berkali-kali sang gadis menepis hal tersebut dan mencoba membangun kemabli
makanya beberapa kali sang gadis menangis karena ia merasa sulit menghadapi hal
ini terutama ketika ia sendirian ia merasa takut dan sedih karena ia merasa
sendirian dan terasingkan.
Sang
gadis yang masih mencoba bangun butuh bantuan orang lain ia tidak sanggup jika
harus berjalan sendiri dan hal yang masih diyakini sang gadis ialah bahwa Tuhan
masih menjaganya dan semuanya akan indah pada waktunya meski hanya sakit yang
ia rasakan saat ini. Sekian
VANDA
OLIVIA CORNELIS