ONLY HOPE
Setiap peristiwa ada sisi baik dan buruknya,
banyak orang disekitar kita yang membuat kita kesal, marah, jengkel, bahagia,
bahkan sampai kita mencintai dia. Setiap peristiwa memiliki hal yang tidak bisa
dilupakan itulah yang disebut dengan kenangan meski orang yang kita saying
telah pergi meninggalkan kita kenangna itu akan tetap ada seiring kita berjalan
mengikuti waktu. Tidak semua kenangna
itu manis kita harus mau menerima kenangan yang pahit karena itu dapat membuat
kita instropeksi diri. Resiko adalah hal yang kita terima dari setiap keputusan
yang kita ambil.
Peristiwa
ini terjadi pada seorang gadis yang
bernama Olivia seorang yang sangat senang
berkhayal dan bermimpi tapi juga banyak yang mematahkan mimpinya. Banyak
orang yang terlibat dalam kehidupannya baik persahabatan, asmara serta
keluarga.
“ Olivia maukah kau
menjadi teman hidupku…?” dengan lembut pangeran itu menggenggam tanganku,
“ ya aku mau menjadi
teman hidupmu dan menemanimu dalam segala hal…..” Putri Olivia mengatakannya
dengan hati berdebar… Pangeranpun
mengajak Putri Olivia menunggangi kuda
putih tapi ketika kuda itu berjalan kuda itu mengeluarkan suara yang sangat
berisik membuat pangeran dan Putri Olivia jatuh tersungkur ketanah dan…………..
“Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnggggg……………………”gabruk….terdengar
bunyi yang begitu keras dari lantai atas. Tak lama mama naik ke lantai atas
memastikkan Olivia baik-baik saja.
“ Olivia, kamu gak sekolah?” Tanya mama
setelah masuk kekamar seorang gadis yang baru saja jatuh dari tempat tidurnya.
“ ya…ma aku sekolah kok..”ucap Olivia
sambil mengucek matanya dan beru sadar ida ada dibawah tempat tidurnya.
“ kenapa belum siap-siap? Sudah jam
setengah tujuh lho..” ucap mam sambil
berjalan keluar kamar…
“ whaaaaaat? Bukannya masih jam enam…?”.
Bak Pasukan perang Olivia segera meluncur kamar mandi dan segera
bersiap-siap. Ini adalah awal tahun ajaran baru untuknya dia terdaftar sebagai
siswa di sebuah sekolah Favorit SMA Budi
Luhur. sekolah tersebut sangat disiplin dan berprestasi dengan beragam piagam dan medali yang telah mengharumkan
nama SMA Budi Luhur. Hari ini Olivia akan menjalani MOS tapi ia terlamabat
bangun dan konsekuensinya adalah ia harus dapat hukuman dari kakak OSIS yang
menjaga di gerbang sekolah.
Dengan tergesa-gesa ia berangkat kesekolah untung
saja perlengkapan yang harus dibawa sudah dipersiapkan dari malam hari jadi tidak usah khawatir. Sesampainya disana gerbang masih terbuka dan
tidak ada orang “ waaaahhh beruntungnyaa, gerbang belum ditutup”ucapnya sambil
merapikan bajunya yang berantakkan, pelan-pelan ia memasuki area sekolah dan mendapati keadaan sekolah
kosong dan tidak ada orang. “katanya ada MOS?kok belum ada orang sama
sekali…?”ucapnya dan menyebar pandangannya kesekitar lapangan.
“kenapa
baru datang?” terdengar suara dari belakangnya, suara itu mengagetkan Olivia, seorang
cowo dengan perawakan tinggi, dengan
kulit putih dan tatapan mata yang tegas.
Olivia menoleh kebelakangnya dan dengan polosnya ia menjawab “ maaf kak, aku
kesiangan tadi malam mempersiapkan perlengkapan untuk hari ini”ucapnya sembari
menundukkan kepala takut dimarahi. “ sedang apa kalian disana?!” “cepat masuk
kelas yang lain sedang berdoa kenapa kali terlambat?!” suara itu terdengar dari
arah tangga ketika ia melihat pria yang
tadi mengagetkannya, pria itu malah tertawa
karena Olivia salah orang pria itu bukan kakak OSIS tapi murid baru yang
juga terlambat sama seperti Olivia. “tunggu apa lagi ayo masuk ke kelas
kalian!”ucap kakak OSIS yang dari tadi menunggu mereka karena masih terdiam di
tempat yang sama. “ iya kak” ucap Olivia”huh aku kira kamu kakak kelas” tambahnya
“ bukan aku juga murid baru yang terlambat, tadi masih nyari perlengkapan yang harus
dibawa”kata pria itu. Baru kali itu
Olivia terdiam sepanjang lorong sekolah ia tidak dapat melanjutkan
pertanyaannya, ia begitu terpesona dengan teman baru yang ia belum tahu
namanya.
Setibanya ia dikelas ternyata tempat
duduk sudah hampir semuanya terisi penuh, Olivia menyebarkan pandangannya
keseluruh kelas tapi ia tidak menemukan kursi kosong. “ duduk
sini aja”terdengar suara dari arah belakan barisan ke dua,”tanpa piker panjang
Olivia bergegeas menuju tempat itu “ thank’s, aku Olivia”ucapnya sambil
mengulurkan tangan” Stefanny” balas gadis itu dan menyambut uluran tangan
Olivia. Berawal dari situlah pertemanan stefanny dan Olivia dimulai Oliviapun
mendapat banyak teman baru diantaranya
Iin dan Jesicca. Kegiatan MOS dimulai dan berjalan dengan lancer, tidak
sedikit siswa yang berasal dari luar Jakarta Olivia sangat senang ia mulai
beradaptasi dan berkenalan dengan banyak teman.
“Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing”
suara bel tanda masuk telah dibunyikan, namun masih ada seorang anak yang
dengan tergesa-gesa berlari kearah gerbak yang sebenatr lagi ditutup “paaaak,
jangan ditutup duluuu tuungguu sebentarrr…”ucapnya dari jauh tapi terlambat
gerbang sudah ditutup dan jangan harap dapat masuk dengan mudah. “yaahhh, telat
lagi dehh” ucap Olivia “kenapa terlambat?”ada suara yang terdengar dari arah
belakang Olivia, “ iya soalnya kesiang….”Olivia terhenti “kesiangan?”balas pria
itu “kamu yanbg waktu itukan…?”Tanya Olivia heran “aku Raja”ucap Raja sambil
mengulurkan tangannya “Olivia” balas Olivia dan membalas uluran tangan Raja.
Tidak berselang lama pintu gerbang dibuka tapi mereka harus menghadapi Bu Risma
yang saat itu sedang bertugas. Merekapun harus mendapat tugas untuk mencabuti
rumput liar dihalaman sekolah belakang
“kamu kenapa terlambat?”ucap Olivia memecahkan keheningan “ada yang
harus aku urus”Ucap Raja “sudah selesai?”tiba-tiba Bu Risma datang “sudah bu”
jawab mereka berbarengan. Sejak saat itu Olivia dan Raja berteman karena
kebisaan mereka terlambat dan mencabuti rumput liar merekapun bersahabat. “Liv,
kamu dicariin Raja tuhh” kata Jesicca “oke” ucap Olivia sambil berlari kecil
keluar kelas “ada apa”kata Olivia “kantin yukk laper nihh”kata Raja sambil
memegangiu perutnya “astagaaaa, kirain aku apa”ucap Olivia. Ada sesuatu yang
aneh disitu banyak yang menganggap mereka pacaran Karena mereka begitu dekat.
Olivia sangat menyukai musik ia
mengambil les biola untuk mengisi waktu luangnya. Ia mulai les sejak satu tahun
yang lalu, ketika ia belajar biola setahun yang lalu ia mendengar permainan
piano yang begitu merdu dan sangat menyentuh, lagu Fur Elise yang diciptakan
oleh Bethooven belum pernah ia mendengar permainan piano yang sebegitu merdunya
iapun penasaran dan mengikuti suara itu tapi belum sempat ia melihat kedalam
ruangannya Raja sudah datang dan mengejutkan Olivia seperti yang biasa Raja
lakukan “hayooo, ngapain disini..?” kata Raja dari belakan Olivia “aduhhh
ngagetin terus dehh, ada yang main piano, permainannya lembuuut banget tapi
gatau orangnya..”ucap Olivia sambil tetap memperhatikan kedalam ruangannya “lho
kok gak ada orang?” Lanjut Raja berhubung tubuh Raja lebih tinggi sehingga ia
bisa langsung melihat kedalam “masa sihh, gak mungkin tadi tuhh ada yang main
dari dalam”ucap Olivia penuh penasaran. “yaudah terserah, tapi emang gak ada
orang”lanjut Raja sambil berjalan pergi dengan membawa gitar kesayangannya “ehh
tungguin” ucap Olivia sambil berlari mengikuti Raja dari belakang. Permainan
piano kembali terdengar setelah beberapa saat berhenti, ada seseorang didalam
sana yang bermain piano dia bernama Rudolf dia sangat menyukai piano tapi ia tidak
suka jika ada orang lain yang melihatnya berlatih. Ketika Olivia latihan di
kelas ia berlatih sendiri membawakan lagu yang paling ia sukai Fur Elise, tapi
permainannya terhenti ketika ia mengingat permainan piano yang tadi ia dengar
namun belum sempat ia melihat siapa yang
memainkanya. Iapun kembali ketempat diamana terdengar suara piano
“permisi” ucap Olivia sambil perlahan masuk kedalam ruangan, tidak ada jawaban,
dengan memberanikan diri Olivia berjalan kedalam sambil memperhatikan
sekelilingnya. “kamu cari siapa”ucap seorang pria dari sudut ruangan “ohh maaf
aku lancang masuk kesini tanpa permisi aku pikir tidak ada orang” ucap Olivia
tapi ia langsung terdiam ketika ia melihat pria itu dan ingatannya kembali pada
10 tahun yang lalu ketika itu seorang temannya
harus pindah keluar kota mengikuti orang tuannya dan iapun harus kehilangan
teman yang dikasihinya. “hei, kenapa diam?kamu cari siapa” ucap pria itu karena
ia lihat Olivia terdiam “nggg..nggak…nggak cari siapa-siapa permisi aku salah
ruangan..”ucap Olivia sambil membalikkan badan dan segera pergi. Selama
perjalanan pulang ia masih teringat dengan pria itu “kenapa ia mirip dengan
temanku?”ucapnya dalam hati “tapi kalau ia temanku kenapa ia tidak
mengenalku?”lanjutnya. “trrllllttt ponselnya berdering dan tertera namanya Raja
“ ada apa ja..?”kata Olivia “kamu dimana, aku ditinggal”kata raja dari balik
telefon “ohh iya…maaf yaa ampun aku lagi jalan pulang kamu dimana?kata Olivia
sambil menepuk keningnya, ia lupa bahwa hari ini ia akan pergi dengan raja ke
toko gitar namun ia sudah dalam perjalanan pulang “ yaampun Olivia kamu lupa
ada aku disini?ucap Raja sedikit kecewa. “maaf…maaf yaudah aku balik dehhh”ucap
Olivia menyesal “gak usah kamu pulang
aja aku ke toko gitarnya sendiri aja ya” kata Raja “yaudah sampai ketemu besok
ya ja..”balas Olivia sambil menutup telfonnya.
Heri telah larut malam namun Olivia
masih teringat pria yang tadi ia temui di tempat lesnya. Iapun teringat teman
kecilnya, kembali ia buka album foto yang telah usang dan berdebu “sudah lama
aku tak melihat album ini”gumamnya perlahan. Selembar demi selembar ia
perhatikan entah dimana sekarang temannya itu. Hingga saat ini entah apa kabar
temannya dan dimana ia berada. Mentari pagi menyinari permukaan bumi yang tidak
rata ini Tuhan masih memberikan makhluk hidup sinar mentari yang cerah.
“Oliviaaaaa
banguunnn…..” ucap ketiga sobatnya berbarengan sambil menggoyangkan tubuhnya
“aduuhh masih ngantuk”
“katanya
ada showcast dari tempat lesmu..?”Tanya
Iin
“kan
jam 9 pagi”balas Olivia
“ini
udah stengah Sembilan kurang 10 menit liv..!”kata stefanny
Hari ini adalah hari yang istimewa
buat Olivia karena hari ini ia akan memainkan sebuah lagu untuk acara ulang
tahun tempat lesnya dan dia ditunjuk untuk mengisi acara hiburan dengan memainkan
biola birunya. Olivia akan berkolaborasi dengan Raja membawakan lagu Bad Boy dan I’m Yours Jason Mraz. Ia
menghabiskan seminggu untuk berlatih keras.
“whaaaaaaaaaaaaaat”kenapa
gak bilang dari tadi…?”ucap Olivia kaget dan segera bergegas kekamar mandi.
“udah
dibangunin dari tadi gak bangun-bangun” kata Iin menambahkan
“yaudah
cepet sana Raja udah nungguin dari tadi…”sahut stefanny
“15
menit cukup yaaaa”ucap Jesicca
Persiapan yang singkat, dalam
perjalanan menuju tempat pertunjukkan Olivia masih bersiap-siap membereskan
rambutnya Raja yang menyetir hanya bisa tertawa temannya yang satu ini begitu
ceroboh, sampai-sampai ia lupa hari ini ada pertunjukkan dia dengan dirinya.
Hari itu Olivia mengenakan dress biru muda dengan belt pita mini yang simple
dan tidak terlalu mencolok namun, ia terlihat anggun. Semua itu berkat Jesicca
yang hobi dalam mendandani teman-temannya.
Raja yang melihatnya saja kagum. Sampailah mereka ditempat pertunjukkan,
beruntungnya acara dimulai 5 menit lagi Olivia cukup bernafas lega.
Ia akan tampil setelah penampilan
tunggal piano sebenarnya ia sangat menanti pertunjukkan itu ia ingin melihat
kembali pria yang beberapa waktu lalu ia lihat. Pertunjukkan segera dimulai
pria itu memasuki panggung memberi hormat pada penonton dan mulai menuju kursi
pianonya mulai menglunkan nada-nada yang merdu dan menghipnotis para penonton
Fur Elise Bethooven Olivia juga sangat menyukai music ini.
“Betapa hebat permainannya”gumam Olivia dalam hati
Kini
giliran Olivia dan Raja maju untuk mepertunjukkan permainan mereka, ketika
mereka mulai memainkan alat music mereka
tali tirai panggung sedikit longgar membuat karung pemberat tidak terikat
kencang,
“Oliviaaaaaaaaaa
awaaaaaaaaaaaaasssssss”
Olivia
sangat menikmati alunan suara biolanya namun tiba-tiba ia melihat sahabatnya
berteriak histeris dan bukkkk ia tidak
sadarkan diri.
Perlahan Olivia membuka matanya dan ia
melihat sebuah cahaya yang menyilaukan matanya, ia menciba mengingat apa yang
terjadi ia hanya mengingat ia berada diatas panggung dan melihat ketiga
sahabatnya berteriak kearahnya dan seketika itu ia tidak ingat apapun.
“kepalaku
pusing sekali’sahutnya pelan sambil memegangi kepalanya
“ini
dimana?”sahutnya pelan
“kamu
sudah sadar?”Raja masuk
“iya,
kenapa aku disini ja, bukannya kita lagi mengadakan pertunjukkan?”Tanya Olivia
“kamu
tertimpa karung pemberat tirai, talinya longgar sehingga menjatuhi kepalamu,
tapi tidak apa-aoa tidak usah khawatir”kata Raja
“oh
iya ada yang ingin menjengukmu dia teman les kiita”tambahnya
“kau
tidak apa-apa?”Tanya Rudolf
“ya
aku baik-baik saja”balas Olivia
Saat itu Olivia sangat senang dengan
kedatangan Rudolf ia terlihat semangat dan
ia merasa nyaman jika ada Rudolf disampingnya. Olivia masih harus
dirawat dirumah sakita sesekali ketiga sahabatnya datang dan menjenguknya.
Biasanya Raja yang akan menginap dan menjaga Olivia tapi kini kehadiran Raja
digantikan oleh Rudolf. Ada yang berbeda dengan Raja lama-lama ia tidak suka
jika Rudolf terlalu dekat dengan Olivia.
“kapan
aku pulang ja”
“hari
ini sudah bisa pulang kok”
“Kenapa,
kamu gak betah yaa disini”Tanya Raja
Akhirnya Oliviapun keluar dari rumah
sakit dan kembali beraktivitas, tapi setelah kejadian itu kini pasukan Olivia
tak lagi berlima melainkan berenam semenjak kejadian itu Rudolf dan Olivia kini
dekat dan sepertinya Raja tidak suka dengan hal itu.
Pelan
tapi pasti Olivia mulai menyukai kehadiran Rudolf, ia begitu mirip dengan
sahabatnya sepuluh tahun yang lalu. Tapi ia tidak tahu harus seperti apa, apa
ia harus tanyakan kepada Rudolf atau lebih baik ia diam. Setiap kejadian untuk
keenam sahabat ini sangat berarti bagi Olivia ia sangat menyayangi mereka semua
terutama Raja ia melihat Raja itu seperti kakaknya sendiri Raja selalu
melindungi dan banyak memberi nasihat. Kini ia benar-benar menyukai Rudolf
namun Rudolf tidak peka akan perasaan Olivia terhadapnya Mungkin Rudolf yhanya
menganggap Olivia itu sebagai adiknya atau sebagai sahabatnya. Olivia selalu
menceritakan hal ini kepada Iin, Stefanny dan Jesicca. Hari ini seperti biasa
mereka mengadakan Camping dadakan mereka berempat menginap dirumah Olivia
“sepertinya
aku mulai menyukai dia…”ucap Olivia
“siapa…?”Tanya
Jesicca
“Rudolf..?”balas Stefanny
“Raja..?”ucap
Iin tak mau kalah
“aku……merasa
nyaman ketika kau berada didekatnya, aku sangat menikmati permainan
musiknya”Olivia mulai mencritakan kisahnya
“Trus..kamu
maum apa?”Tanya Jesicca
“emang
siapa sih…?”balas Iin
‘Rudolf…”kata
Olivia malu-malu
“cieeee..cieee
ada yang falin in love….”ledek Stefanny
“tapi
aku belum siap bilang sama dia, kalo aku suka sama dia…”kata Olivia
“trus…kamu
mau pendem rasa itu..?”kata Jesicca”kamu gak nyesel kalo nanti kamu keduluan
orang lain..?”lanjutnya
“tapi
mau gimana kalo belum siap untuk saat ini”balas Olivia
“ya
sudah kita lanjutkan besok aku sudah ngantuk..”kata Iin
Hari-hari Olivia penuh dengan
warna…banyak hal yang terjadi dan mereka menjalani bersama ada Jesicca Stefanny
Iin Raja dan Rudolf. Tidak terasa merak
sudah masuk kekelas 3 SMA berarti hampir tiga tahun sudah mereka bersama dan
selama itu pula Olivia memendam perasaan itu.
“Oliviaaaa…”panggil
Jesicca mengagetkan lamunanya
“apasih,,ngagetin
aja dehh” balas Olivia
“kamu
tau…karena kamu gak mau bilang sama Rudolf tentang perasaan kamu ke dia”ucap
Jesicca
“apa..”sahut
Olivia
“dia
udah jadian sama Febby anak kelas sebelah..”ucap Jesicca
Mendengar
hal itu Olivia terdiam tanpa sadar air mata mengalir deras kepipinya, batinya
mulai merasa
”bagaimana
ini,,,”katanya dalam hati”aku telah kehilangan kesempatan, mengapa aku biarkan
aku memendam perasaan ini?”katanya lagi
“ketika
ia pergi kekantin ia melihat Rudolf dan Febby sedang makan bersama dengan
teman-teman Febby yang lain. Raja yang melihat hal itu langsung menarik tangan
Olivia dan membawanya ketaman belakang sekolah tempat dulu mereka dihukum
bersama untuk mencabuti rumput liar kalo mereka terlambat. Olivia hanya bisa
terdiam dan iapun menangis dihadapan Raja. Rudolf yang melihat hal itu bingung
tak mengerti
“sudah
jangan menangis begitu”kata Raja menenangkan
“bagaimana
bisa….?”kata Olivia sesenggukkan
“masih
ada aku disini”kata Raja
“aku
bodoh yaaa…harusnya sejak lama aku bilang sama Rudolf aku suka sama dia”sahut
Olivia pelan
“tidak…aku
tau kamu belum siap untuk mengatakannya, dan aku yakin suatu saat dia akan
mengerti posisi kamu sat ini”katra Raja meyakinkan
“kalo
begitu apa aku harus tetap memendam perasanku padanya..?”Tanya Olivia
“kalau
kamu masih ingin dia ada didekatmu silahkan saja”balas Raja
Olivia dan Raja menuju kantin
istirahat pertama tadi mereka habiskan di taman belakang.
“hei….kamu
Olivia kan..?” Tanya Febby yang ternyata telah menunggu Olivia dikantin
“nggg…iya
ada apa?”balasnya
“kenalkan
aku Febby” ucap Febby
“aku
dengar permainan biolamu sangat mengagumkan?”Tanya Febby
“memang
ada apa?”balas Olivia
“sekolah
kita akan mengadakan perpisahan angkatan kita, aku mau kau bermain disana”
“boleh
saja, aku akan bermain tunggal?”Tanya Olivia
“aku
sudah membuat jadwal bahwa kau akan berkolaborasi dengan Rudolf”ucap Febby
Mendengarnya
saja Olivia langsung terdiam
“bagaimana
kalau dia berkolaborasi denganku”Raja langsung memotong keheningan itu
“kau
yang bermian gitar itu kan?tanya Febby “aku pikir kalau bertiga lebih
baik,bagaimana?”lanjutnya
Olivia
tidak menjawab dia masih terdiam
“baiklah
kalo begitu bertiga”ucap Raja melanjutkan
“kalo
begitu acara akan dilakasanakan saat bulan Juli nanti tepatnya tanggal 18,masih
ada waktu satu bulan untuk kalian berlatih”sambung Febby
Akhirnya mereka sepakat bahwa Olivia
Raja dan Rudolf akan bermain bertiga untuk acara penggalangan dana tepat
tanggal 18 Juli. Selama mereka latihan Olivia lebih banyak diam dari pada
berbicara Raja yang melihat hal itu mengerti apa yang dirasakan Olivia. Satu
bulan telah berlalu kini tiba saatnya untuk tampil
“Liv,
kamu yakin hari ini kamu mau bicara sama
dia?”ucap Raja
“tidak
apa, setelah ini aku akan melanjutkan ke Korea, aku pasti tidak akan bertemu
denganya lagi ja”ucap Olivia
“aku
tidak mau kau memaksakan kehendakmu sendiri”tambah Raja
Ketika
mereka tampil mereka bertiga berkolaborasi membawakan laghu Adelle Someone Like
You, sitengah permainan Olivia meneteskan air mata, ia sangat menghayati lagu
itu ia mengeingat kedekatannya dengan Rudolf bagaimana ia bermain dengannya dan
menghabiskan waktu bersama. Namun, kini semua hanyalah kenangan yang hanya bisa
diingat. Hanya satu yang ia minta agar Rudolf tidak melupakannya.
Usai pertunjukkan ia menghampiri
Rudolf, tidak banyak yang ia ucapkan
“hei,
ada apa?” Tanya Rudolf
“gak
rasa yaa kita udah mau lulus”ucap Olivia tanpa menatap Rudolf pandangannya
menerawang jauh kedepan, ia sungguh bingung apa yang akan terjadi nanti ketika
ia bilang yang sebenarnya pada Rudolf
tapi ia tidak mau seperti ini terus ia akan menyelesaikan semuanya.
“iya,
padahal kita belum lama kenalkan?”lanjut Rudolf
Ditempat itu tidak hanya ada mereka
berdua dari kejauhan ada Raja yang memperhatikan mereka. Raja dia yang selalu
ada untuk Olivia kapan dibutuhkan ketika Olivia sedih atupun senang enath
kenapa ia selalu ada. Ia selalu mengerti bagaimana perasaan Olivia ia sangat
senang bisa menjadi kakak dan sahabat bagi Olivia. Sebentar kagi ia harus
melanjutkan sekolahnya ke Amerika dia bingung bagaimana harus mengatakannya
kepada Olivia meski Olivia sendiri akan pergi ke Korea ia ingin selalu menjaga
dan melindungi Olivia.
“Rudolf,
aku akan pergi ke Korea melanjutkan sekolahku disana aku mau mengambil sastra
korea disana”ucap Olivia
“Bagus
dong, kalo aku akan tetap disini”lanjut Rudolf
“aku
harus mengataka ini”pikir Olivia dalam hati”sudah lama ini berlangsung biar
terselesaikan sekarang juga’lanjutnya dalam hati
“Rudolf,
nan neon Saranghaeyo” ucap Olivia lirih
Rudol terdiam ia tidak menyangka bahwa Olivia yang
selama ini periang ternyata menyimpan perasaan untuknya
“maaf,
aku sudah memilih orang lain yang aku rasa tepat bagiku”ucap Rudolf
“aku
tahu itu, aku hanya ingin mengatakannya saja selama tiga tahun ini aku menjadi
seorang pengecut yang hanya berani bersembunyi dibalik layar”Olivia
mengatakannya matanya mulai berkaca-kaca
“tapi
bagaimana bisa?”Tanya Rudolf “tapi dari awal aku bertemu dengan aku hanya menganggap
kau sebagi adikku”ucap Rudolf dia hanya mengganggap Olivia sebagai adik entahlah,
aku pikir tak perlu sebuah alasan untuk mencintai seseorang,aku hanya ingin kau
tahu bahwa kau sangat berarti bagiku”ucap Olivia”tidak banyak yang kuminta darimu”lanjut
Olivia
“tetaplah
mengingatku”lanjutnya
Seketika itu juga suasana begitu hening hanya angin malam yang berhembus
pelan, Olivia tak sadar bahwa air matanya telah mengalir deras. Rudolf serba
salah ia tak mau menyakiti Olivia dia juga tidak mau memberikan harapan palsu
untuk Olivia. Raja yang dari tadi hanya mengamati kini datang dan menenangkan
Olivia.
“dia udah berusaha jujur sama lo,kalo lo gak
menghargainya lo keterlaluan lo gak pantes disebut sebagai pria!”ucap Raja
menahan emosi dia tak mengerti kenapa Olivia bisa menyukai Rudolf, Rudolf
terbilang cukup sebagai seorang pria yang cuek dan tidak peka namun hal itu
yang membuat Olivia tertarik. Raja membawa Olivia pergi Rudolf masih terpaku
ditempatnya berpijak ia tidak tahu apa yang harus dia perbuat.
Pagi ini Olivia berkemas semua
kelengkapan identitasnya telah siap, hari ini adalah hari keberangkatan Olivia
ke Korea,semua sahabatnya membantunya untuk berkemas. Kecuali Raja ya karena
dia yang akan mengantar Olivia ke bandara. Semua hal yang terjadi ia anggap
sebagai pelajaran, cukup baginya memendam perasaan selama tiga tahun, kini ia
ingin memulai kehidupan yang baru ia ingin melupakan semua hal yang berkaitan
dengan Rudolf. Semenjak ia mengatakan perasaannya pada Rudolf, sampi sekarang tidak
lagi terdengar kabar tentang Rudolf kini ia menghilang dan tak tau entah
dimana.
“Liv,
udah siap?”ucap Stefanny membuyarkan lamunan Olivia
“ohh…iya
sudah kok”balasnya
Seiring
berjalannya waktu masa SMA telah mereka lewati kini saatnya untuk
memulai awal dari masa depan mereka,mereka memiliki pilihan masing-masing. Jesicca
ingin menjadi Diplomat, Stefanny ingin menjadi seorang desain interior,Iin
ingin menjadi seorang dokter dan Raja ingin menjadi gitaris professional.
Mereka melepas kepergian Olivia di Bandara diam-diam Olivia merindukan
kehadiran seseorang yang sudah lama tidak ia temui keberadaannya. Kini yang
harus ia lakukan adalah mencoba untuk tetap tegar dan berjanji untuk melupakan
orang yang dicintainya. Berat memang tapi ini keputusan yang harus diambil oleh
Olivia.
Satu tahun telah berlalu, Olivia yang sedang
beristirahat di taman menatap kelangit mencoba menemukan sosok yang selama satu
tahun ini ia coba untuk melupakannya ia sudah berjanji untuk tidak mengingat
Rudolf kembali, entah dimana ia sekarang tak ada lagi kabarnya. Kini yang bisa
ia lakukan adalah berharap,ya hanya berharap aga dia yang disana tidak
melupakannya dan selalu mengingatnya.