Source: http://caramembuat524.blogspot.co.id/2014/01/cara-agar-blog-tidak-bisa-di-copy-paste.html
The Holy Bible

Senin, 27 April 2015

Sekedar Teman Baik Bukan Sahabat
Karya:VOC


                Kisah ini diawali oleh oertengkaran kedua teman baruku dikampus, dengan permasalahan yang menurutku sangat sepele hanya saja kiomunikasi diantara mereka tidaklah berjalan dengan baik. Aku Vanda seorang mahasiswa jurusan BK yang saat ini tengah merajut masa depan. Ini kisah beberapa temanku yang bukanlah sahabatku, namun aku menganggap mereka sebagai sahabat terbaikku.
Saat itu siang hari ketika aku masih berada didalam bus kota menuju kampusku yang terletak didaerah Sudirman. Handphoneku berdering tanda panggilan masuk dari teman baruku sekitar tiga bulanan aku mengenalnya belum terlalu lama dan masih terjadi proses adaptasi diantara kami. Namanya Jessie, saat ini ia tengah dirawat disalah satu rumah sakit di Jakarta karena mengidap penyakit usus buntu, ia menitip pesan padaku untuk teman baiknya Tian. Akupun dengan siap mendengarkan apa pesannya. Ketika ia menyampaikan pesannya melalui telepon aku terenyuh mendengarnya hanya satu yang ia inginkan yakni kembali berdamai dengan Tian. Jessie menyesal telah membuat Tian resah akan kehadirannya dan tingkah lakunya yang terlalu berlebihan dan kini ketika Jessie dirawat ia masih saja memikirkan Tian teman baiknya itu.
                Tak banyak yang dapat kulakukan, sesampainya aku dikampus aku langsung menyampaikan pesan dari Jessie untuk Tian. Tapi apa yang terjadi Tian hanya mendengarkan dan tanpa memberi respon sedikitpun Tianpun berlalu. Aku hanya terdiam tak tahu harus bagaimana, apa yang Tian tunjukkan barusan tidak sesuai dengan harapanku. Seiring berjalannya waktu Jessie kembali kekampus dan mulai aktif untuk berkuliah kembali. Jessie dan Tian berselisih paham ketika mereka ada dikelas, Jessie bermaksud untuk bercanda dengan Tian namun Tian yang sedang ada masalah malah menanggapi dengan serius dan sejak saat itulah mereka berselisih paham meski mereka sudah saling bermaaf-maafan namun masih ada saja rasa canggung diantara kedua orang ini.
                Sejak Tian dan Jessie berselisih paham, akulah yang paling dekat dengan Tian hamper satu tahun kami bercerita dan berbagi satu sama lain. Tian bercerita tentang dirinya seperti apa dan bagaimana begitu juga denganku, aku sangat senang bisa berteman dengan Tian ternyata dia orang yang mengasyikkan. Tidak terasa satu tahun aku berteman baik dengan Tian, dan sudah satu tahun juga Tian memotivasiku dalam hal akademik maklumlah aku tidak begitu pintar di akademik berbeda dengan Tian yang IPKnya mencapai 3.89 disisi lain aku bersyukur bisa berteman dengan orang sepintar Tian. Hingga suatu hari terjadialh hal yang paling menyedihkan bagiku, saat itu aku hendak menceritakan bahwa aku menyukai salah satu kakak kelasku, namun tanpa sengaja aku memukul punggungnya dengan keras dan membuatnya marah saat itu juga. Tian langsung pergi meninggalkanku, aku hanya terdiam dan aku bingung aku langsung meminta maaf padanya tetapi dia hanya diam dan tidak berkata apapun dia hanya berkata “udahlah diem aja dulu”. Saat itu aku sangat merasa bersalah aku hanya bisa menangis aku merasa begitu bodoh mengapa begitu mudah aku merusak sebuah hubungan pertemanan yang selama ini aku jaga dengan baik.
                Saat aku pulang kerumah aku hanya bisa mengangis dalam diam, aku berpikir bahwa aku tidak bisa berteman baik lagi dengan Tian. Hingga saat aku tidur aku bermimpi didalam mimpiku Tian tidak lagi mau untuk berteman denganku. Entah apa yang harus aku perbuat untuk membuatmu memaafkanku. Aku mencoba untuk bercerita dengan salah satu temanku cece namanya, ia begitu bijak dan lembut akupun menceritakan apa yang kualami dengan Tian. Cece hanya menggelengkan kepala karena tidak habis pikir kenapa bisa terjadi hal yang seperti itu.
                Tian tidak mengajakku berbicara hamper satu bulan. Aku merasakan ada yang kurang dalam hidupku. Aku merasa bergantung pada Tian, Cece menyarankan untuk  sejenak membiarkan Tian dan tidak mengusiknya, hingga satu bulan kemudian Tianpun mengajakku brbicara kembali dan kami berteman kembali. Dan perselisihanku dengan Tian masih berlanjut ketika Tian menjailiku dengan mengumpati handphoneku yang tengah dicas dibelakang kelas, saat jam pulang aku langsung bergegas keruang dosen karena ingin mengumpulkan tugas tetapi ketika aku naik dan menuju kelas untuk mengambil handphoneku tapi ternyata sudah tidak ada lagi dikelas, akupun panic tak karuan karena suasana kelas sudah sepi tidak adaorang lagi. Aku langsung bertanya pada temanku yang masih ada didepan ruang kelas namun, tidak ada yang melihatnya, akupun bertanya juga pada Tian tapi hasilnya nihil. Setelah setengah jam berkeliling ruangan dan bertanya pada seluruh teman, ternyata handphoneku diumpatin sama Tian, saat itu aku kesalnya minta ampun tapi aku tidak langsung marah dan berdiam untuk tidak berbicara sama sekali, aku hanya kesal pada saaat itu. Beberapa hari kemudia aku mulai merencanakan untuk menjailinya kembali sesuai dengan apa yang dilakukannya beberapa hari lalu, tetapi apa yang kudapat?ia begitu sangat marah padaku iapun kembali diam dan tidak lagi mau berbicara denganku, perlahan tapi pasti Tian menjauh dariku dan tidak lagi mau bermain denganku. Jujursaja aku sangat sedih dengan hal ini, satu hal yang sangat aku ingat darinya “kita ini teman dekatkan?bukan sahabat?”kata-kata itu masih saja terngiang dalam benakku. Jika saat ini aku bisa akrab kembali dengannya aku hanya ingin berkata”aku ingin bersahabat denganmu Tian”.

                Saat ini aku sudah tidak lagi dekat dengan dia, aku sedih, aku ingin dekat dan akrab lagi dengan Tian meski hanya sebagai teman dekat dan bukan sahabat. Kini aku hanya bisa berdoa dan memohon kepada Tuhan untuk tetap menjaga temanku dimanapun dia berada. Terima kasih Tian kau telah hadir dan memberi warna dalam hidupku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar