Sekedar Teman Baik Bukan Sahabat
Karya:VOC
Kisah ini diawali
oleh oertengkaran kedua teman baruku dikampus, dengan permasalahan yang
menurutku sangat sepele hanya saja kiomunikasi diantara mereka tidaklah
berjalan dengan baik. Aku Vanda seorang mahasiswa jurusan BK yang saat ini
tengah merajut masa depan. Ini kisah beberapa temanku yang bukanlah sahabatku,
namun aku menganggap mereka sebagai sahabat terbaikku.
Saat itu siang hari ketika aku masih berada didalam bus kota menuju kampusku
yang terletak didaerah Sudirman. Handphoneku berdering tanda panggilan masuk
dari teman baruku sekitar tiga bulanan aku mengenalnya belum terlalu lama dan masih
terjadi proses adaptasi diantara kami. Namanya Jessie, saat ini ia tengah
dirawat disalah satu rumah sakit di Jakarta karena mengidap penyakit usus buntu,
ia menitip pesan padaku untuk teman baiknya Tian. Akupun dengan siap
mendengarkan apa pesannya. Ketika ia menyampaikan pesannya melalui telepon aku
terenyuh mendengarnya hanya satu yang ia inginkan yakni kembali berdamai dengan
Tian. Jessie menyesal telah membuat Tian resah akan kehadirannya dan tingkah
lakunya yang terlalu berlebihan dan kini ketika Jessie dirawat ia masih saja
memikirkan Tian teman baiknya itu.
Tak banyak yang
dapat kulakukan, sesampainya aku dikampus aku langsung menyampaikan pesan dari
Jessie untuk Tian. Tapi apa yang terjadi Tian hanya mendengarkan dan tanpa
memberi respon sedikitpun Tianpun berlalu. Aku hanya terdiam tak tahu harus
bagaimana, apa yang Tian tunjukkan barusan tidak sesuai dengan harapanku. Seiring
berjalannya waktu Jessie kembali kekampus dan mulai aktif untuk berkuliah
kembali. Jessie dan Tian berselisih paham ketika mereka ada dikelas, Jessie
bermaksud untuk bercanda dengan Tian namun Tian yang sedang ada masalah malah
menanggapi dengan serius dan sejak saat itulah mereka berselisih paham meski
mereka sudah saling bermaaf-maafan namun masih ada saja rasa canggung diantara
kedua orang ini.
Sejak Tian dan
Jessie berselisih paham, akulah yang paling dekat dengan Tian hamper satu tahun
kami bercerita dan berbagi satu sama lain. Tian bercerita tentang dirinya
seperti apa dan bagaimana begitu juga denganku, aku sangat senang bisa berteman
dengan Tian ternyata dia orang yang mengasyikkan. Tidak terasa satu tahun aku
berteman baik dengan Tian, dan sudah satu tahun juga Tian memotivasiku dalam
hal akademik maklumlah aku tidak begitu pintar di akademik berbeda dengan Tian
yang IPKnya mencapai 3.89 disisi lain aku bersyukur bisa berteman dengan orang
sepintar Tian. Hingga suatu hari terjadialh hal yang paling menyedihkan bagiku,
saat itu aku hendak menceritakan bahwa aku menyukai salah satu kakak kelasku,
namun tanpa sengaja aku memukul punggungnya dengan keras dan membuatnya marah
saat itu juga. Tian langsung pergi meninggalkanku, aku hanya terdiam dan aku bingung
aku langsung meminta maaf padanya tetapi dia hanya diam dan tidak berkata
apapun dia hanya berkata “udahlah diem aja dulu”. Saat itu aku sangat merasa
bersalah aku hanya bisa menangis aku merasa begitu bodoh mengapa begitu mudah
aku merusak sebuah hubungan pertemanan yang selama ini aku jaga dengan baik.
Saat aku pulang
kerumah aku hanya bisa mengangis dalam diam, aku berpikir bahwa aku tidak bisa
berteman baik lagi dengan Tian. Hingga saat aku tidur aku bermimpi didalam
mimpiku Tian tidak lagi mau untuk berteman denganku. Entah apa yang harus aku
perbuat untuk membuatmu memaafkanku. Aku mencoba untuk bercerita dengan salah
satu temanku cece namanya, ia begitu bijak dan lembut akupun menceritakan apa
yang kualami dengan Tian. Cece hanya menggelengkan kepala karena tidak habis
pikir kenapa bisa terjadi hal yang seperti itu.
Tian tidak
mengajakku berbicara hamper satu bulan. Aku merasakan ada yang kurang dalam
hidupku. Aku merasa bergantung pada Tian, Cece menyarankan untuk sejenak membiarkan Tian dan tidak
mengusiknya, hingga satu bulan kemudian Tianpun mengajakku brbicara kembali dan
kami berteman kembali. Dan perselisihanku dengan Tian masih berlanjut ketika
Tian menjailiku dengan mengumpati handphoneku yang tengah dicas dibelakang
kelas, saat jam pulang aku langsung bergegas keruang dosen karena ingin
mengumpulkan tugas tetapi ketika aku naik dan menuju kelas untuk mengambil
handphoneku tapi ternyata sudah tidak ada lagi dikelas, akupun panic tak karuan
karena suasana kelas sudah sepi tidak adaorang lagi. Aku langsung bertanya pada
temanku yang masih ada didepan ruang kelas namun, tidak ada yang melihatnya,
akupun bertanya juga pada Tian tapi hasilnya nihil. Setelah setengah jam
berkeliling ruangan dan bertanya pada seluruh teman, ternyata handphoneku
diumpatin sama Tian, saat itu aku kesalnya minta ampun tapi aku tidak langsung
marah dan berdiam untuk tidak berbicara sama sekali, aku hanya kesal pada saaat
itu. Beberapa hari kemudia aku mulai merencanakan untuk menjailinya kembali
sesuai dengan apa yang dilakukannya beberapa hari lalu, tetapi apa yang
kudapat?ia begitu sangat marah padaku iapun kembali diam dan tidak lagi mau
berbicara denganku, perlahan tapi pasti Tian menjauh dariku dan tidak lagi mau
bermain denganku. Jujursaja aku sangat sedih dengan hal ini, satu hal yang
sangat aku ingat darinya “kita ini teman dekatkan?bukan sahabat?”kata-kata itu
masih saja terngiang dalam benakku. Jika saat ini aku bisa akrab kembali
dengannya aku hanya ingin berkata”aku ingin bersahabat denganmu Tian”.
Saat ini aku sudah
tidak lagi dekat dengan dia, aku sedih, aku ingin dekat dan akrab lagi dengan
Tian meski hanya sebagai teman dekat dan bukan sahabat. Kini aku hanya bisa
berdoa dan memohon kepada Tuhan untuk tetap menjaga temanku dimanapun dia
berada. Terima kasih Tian kau telah hadir dan memberi warna dalam hidupku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar